Tag: Transmisi Otomatis

Beda Transmisi CVT dan Transmisi Matic Biasa

Sama-Sama Transmisi Matic, Ini Beda Transmisi CVT dan Transmisi Matic Biasa!

Saat ini sebagian orang lebih senang menggunakan mobil bertransmisi otomatis (matic) dibandingkan bertransmisi manual. Hal ini tidak mengherankan karena mobil bertransmisi matic memiliki salah satu keuntungan yakni kemudahan dalam pengoperasiannya dan mengurangi resiko kelelahan mengemudi karena tidak memiliki pedal kopling.

Selain sistem pengoperasiannya yang lebih mudah, transmisi matic juga memiliki perpindahan gigi kecepatan yang lebih lembut daripada transmisi manual. Sehingga ketika digunakan, mobil matic memang terasa lebih halus dan nyaman karena Anda tidak akan merasakan hentakan pada saat perpindahan gigi kecepatan seperti layaknya mobil bertransmisi manual. Akibatnya mobil akan terasa berjalan dengan mulus.

Listiyono selaku Kepala Bengkel Zaini Auto Motor, menjelaskan “Automatic transmission (transmisi matic) merupakan mekanisme perpindahan rasio roda gigi pada transmisi mobil yang bekerja secara otomatis berdasarkan beban, besarnya tekanan pedal gas dan kecepatan mobil itu sendiri. Pada transmisi matic bekerja menggunakan rangkaian planetary gear, sehingga masih memiliki gigi percepatan (gigi 1, 2, dan seterusnya). Namun perpindahan dari gigi 1 ke gigi 2 itu sudah berlangsung secara otomatis. Meski perpindahan gigi berlangsung secara otomatis, namun mobil matic tetap dilengkapi dengan tuas transmisi.”

Sebagai pemilik mobil, Anda perlu mengetahui bahwa ada dua jenis transmisi otomatis yang banyak digunakan pada mobil keluaran terbaru, yaitu transmisi matic tipe Torque Converters dan transmisi matic tipe CVT. Walaupun sudah banyak digunakan masyarakat, namun masih banyak pemilik mobil yang belum bisa membedakan mobil transmisi CVT dan transmisi matic tipe Torque Converters.

“Kedua jenis transmisi otomatis ini memiliki perbedaan yang mendasar pada sistem kerjanya. Tetapi keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu membebaskan pengemudi dari mengendalikan kopling dan perseneling,” papar Listiyono di bengkel Zaini Auto Motor.

1. Transmisi Otomatis CVT

Transmisi otomatis CVT (Continuously Variable Transmission) merupakan sistem transmisi yang tidak memiliki roda gigi rasio (gigi perseneling) seperti pada mobil bertransmisi otomatis konvensional atau mobil bertransmisi manual. Jenis transmisi otomatis CVT ini menggunakan komponen pulley dan sabuk baja (steel belt), sebagai komponen utama penggerak transmisi yang menggantikan roda gigi persneling.

“Pada transmisi CVT untuk posisi gigi kecepatan 1 sampai 4 tetap pada tuas gigi satu, dan tidak perlu memindah tuas perseneling. Transmisi jenis CVT dapat melakukan perubahan gigi rasio menyesuaikan dengan putaran mesin. Sebagai penggantinya digunakan sepasang pulley yakni puli penggerak (drive pulley) dan puli yang digerakkan (driven pulley). Kedua pulley tersebut dihubungkan dengan steel belt (sabuk dari serat baja). Kedua pulley ini memiliki diameter yang bervariasi, sehingga perbandingan gigi pun bisa berubah secara berkelanjutan. Sesuai namanya, transmisi ini mengubah pengaturan secara konstan, sehingga memungkinkan mesin mobil berjalan lebih efisien,” jelas Listiyono ketika ditemui di bengkel mobil Zaini Auto Motor.

Sistem pada transmisi otomatis CVT mampu meminimalisir hentakan saat perpindahan gigi kecepatan. Sehingga CVT diklaim memiliki perpindahan gigi yang sangat halus dan terkadang tidak terasa oleh pengemudi. Selain itu, kelebihan lain dari mobil bertransmisi CVT adalah pengemudi tidak memerlukan putaran RPM tinggi untuk mendapatkan tenaga besar, tetapi hal ini berlaku untuk pemakaian normal seperti di dalam kota.

Transmisi CVT (continuously variable transmission) juga lebih irit bahan bakar jika dibandingkan dengan mobil bertransmisi otomatis AT (torque converters). Karena dengan transmisi CVT ini membuat putaran RPM mobil cenderung jarang tinggi, tetapi tetap bisa menghasilkan tenaga besar. Di Indonesia, ada beberapa mobil yang telah menggunakan transmisi CVT seperti, Honda Jazz, Honda Mobilio, Toyota Yaris, Honda HR-V, Toyota Prius Hybrid, Toyota C-HR, Nissan Grand Livina, Nissan Juke, dan All New Camry. Selain itu untuk mobil jenis Hybrid, sebagian besar telah menggunakan transmisi CVT, karena lebih irit bahan bakar dan lebih halus.

Transmisi Otomatis CVT

2. Transmisi Otomatis AT Torque Converters

Selanjutnya adalah transmisi otomatis AT Torque Converters, dimana sistem kerjanya menggunakan 3 komponen utama yaitu hydraulic control unit, torque converters dan planetary gear. Setiap komponen pada transmisi ini memiliki perannya masing-masing. Pengubah torsi (Torque Converters) terdapat pada mobil transmisi AT, sedangkan pada mobil transmisi manual terdapat kopling. Antara kedua alat ini, memiliki tujuan yang sama dengan cara kerja yang berbeda.

  • Torque Converters (pengubah torsi) berfungsi sebagai kopling layaknya pada mobil bertransmisi manual. Komponen kopling dan torque converters memiliki cara kerja yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama. Torque Converters berfungsi untuk melipatgandakan torsi mesin kendaraan, kemudian mentransfernya melalui roda gigi transmisi ke roda penggerak (drive wheels) yang berada di ujung poros penggerak (drive shaft).
  • Planetary gear set terdiri dari sun gear (roda gigi matahari), planet gears (roda gigi planet), planet gears carrier, dan ring gear (roda gigi cincin). Susunan planetary gear set ini dapat menghasilkan perpindahan gigi dengan berbagai rasio gigi yang berbeda-beda sesuai yang dibutuhkan oleh transmisi untuk mencapai kecepatan yang diinginkan, baik saat mengemudi mundur ataupun saat berjalan normal.
  • “Planetary Gear pada transmisi matic memiliki fungsi yang mirip dengan gigi-gigi rasio pada transmisi manual, yaitu bertugas merubah rasio putaran mesin ke roda. Sehingga sistem transmisi ini identik dengan tuas persneling yang digunakan untuk mengatur gigi kecepatan pada mobil. Contoh mobil yang menggunakan transmisi AT Torque Converters seperti Toyota Yaris, Suzuki Ertiga.” ujar Listiyono ketika ditemui di bengkel Zaini Auto Motor.
  • Hydraulic Control Unit berfungsi untuk mengontrol kopling, jika pada mobil transmisi manual kopling di kontrol oleh pengemudi melalui pedal kopling, sedangkan pada mobil bertransmisi otomatis torque converters, kopling dikontrol oleh Hydraulic Control Unit.
Kiri Automatic Transmission (AT) dan kanan Continuously Variable Transmission (CVT)

3. Kesimpulan Perbedaan Transmisi CVT dan Transmisi Matic Biasa

Setelah menyimak penjelasan di atas tentang perbedaan transmisi matic tipe Torque Converters dengan transmisi matic tipe Continuously Variable Transmission (CVT), maka kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut:

  • Perbedaan dapat dirasakan pada tarikan dan perpindahan gigi kecepatan transmisi, pada mobil bertransmisi CVT tarikan terasa lebih halus, sebab minim atau tidak ada hentakan saat perpindahan gigi kecepatan transmisi.
  • Pada transmisi CVT, setelah melakukan akselerasi untuk menyalip, ketika pedal gas diangkat (tidak ditekan) maka pengemudi tidak perlu menekan pedal gas terlalu dalam lagi karena kecepatan mobil masih terjaga.
  • Transmisi matic CVT menghasilkan perpindahan gigi yang lebih halus dibandingkan transmisi AT torque converters. Selain itu, pada mobil bertransmisi CVT dalam perpindahan gigi akan sedikit mengalami penurunan RPM mesin. Hal ini tentunya membuat transmisi CVT akan lebih irit konsumsi bahan bakarnya dibandingkan dengan transmisi AT torque converters.
  • Mobil bertransmisi CVT mempunyai efek engine brake lebih bagus dibandingkan transmisi matic torque converter. Sistem Transmisi CVT memiliki kemampuan engine break yang cukup kuat yang mana akan cukup membantu pengemudi saat melewati jalan yang menurun Sehingga beban berat dari rem bisa dikurangi.
  • Walau hentakan saat perpindahan gigi masih terasa, performa akselerasi pada mobil bertransmisi matic torque converters cenderung lebih bagus dari mobil bertransmisi CVT. Selain itu biaya perawatan dan perbaikannya pun lebih murah.
  • Akselerasi pada mobil bertransmisi CVT tidak terlalu spontan, karena pada transmisi CVT tenaga yang berasal dari mesin tidak sepenuhnya mengalir ke roda, hal ini disebabkan adanya gesekan antara steel belt dan pulley.

Itulah beberapa perbedaan mobil transmisi CVT dan AT torque converters. Setiap jenis transmisi otomatis memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jadi jika Anda ingin memilih mobil dengan transmisi otomatis harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan Anda.

Sebagai catatan dan penting untuk diingat, pengantian oli transmisi CVT tidak boleh sembarangan, dan harus mengikuti standar oli rekomendasi produsen mobil. Jika penggantian oli tidak sesuai rekomendasi, dijamin CVT Anda pasti akan bermasalah dan bersiap merogoh kocek lebih dalam.

Apabila transmisi manual atau transmisi matic mobil kesayangan Anda mengalami masalah, bengkel Zaini Auto Motor siap memberikan bantuan diagnosa, perawatan maupun perbaikan transmisi matic mobil Anda. Para mekanik profesional bengkel Zaini Auto Motor akan melakukan diagnosa secara tepat dan benar, sehingga perbaikannya pun akan lebih cepat. Yang perlu diingat, biaya servisnya tentunya lebih murah dan hemat dibandingkan dengan servis di bengkel resmi. Tunggu apalagi, percayakan perawatan dan perbaikan mobil kesayangan anda kepada bengkel profesional Zaini Auto Motor.

Ganti Oli Transmisi Otomatis

Bahaya, Telat Ganti Oli Transmisi Matic Bisa Bikin Tekor Dan Ini Dampak Buruknya!

Perawatan dan pemeriksaan kondisi mobil sudah barang tentu wajib dilakukan secara berkala dan rutin. Khusus untuk mobil matic, hal yang perlu diperhatikan oleh pemilik mobil adalah penggantian oli transmisi matic atau ATF (Automatic Transmission Fluid). Oli transmisi di mobil matic mempunyai interval waktu penggantian yang berbeda-beda sesuai rekomendasi pabrikan mobil, ada yang setiap 40.000 km, 60.000 km, hingga 100.000 km.

“Oli transmisi (Automatic Transmission Fluid) merupakan jantungnya mobil matic, karena transmisi otomatis bekerja dengan menggunakan bantuan tekanan oli yang diatur oleh valve body. Jadi perawatan atau penggantiannya harus benar-benar diperhatikan. Oli transmisi berfungsi sebagai pelumas bagi komponen di dalam transmisi mobil. Jika oli yang digunakan sudah mengalami penurunan kualitas dan kekentalannya pun berkurang, maka akan sangat berbahaya. Hal ini akan berakibat komponen di dalam transmisi tidak bisa dilumasi secara optimal,” kata Listiyono kepala bengkel Zaini Auto Motor.

Selain melumasi komponen di dalam transmisi itu sendiri, oli transmisi juga berfungsi, antara lain:

  • Untuk menjaga kestabilan temperatur dan mendinginkan komponen di dalam transmisi.
  • Membantu kinerja transmisi dan mempermudah perpindahan gigi secara lebih halus.
  • Meningkatkan daya tahan terhadap gesekan antar komponen di dalam transmisi sehingga transmisi lebih awet.
  • Sebagai lapisan perlindungan yang tahan terhadap temperatur tinggi, untuk melindungi komponen dari cairan oksidasi, serta meminimalisir pembentukan deposit (endapan kotoran) berbahaya.
  • Meningkatkan daya tahan terhadap gesekan, mengurangi keausan (korosi) untuk menjamin usia kerja transmisi yang awet.

Oli transmisi merupakan salah satu cairan yang paling sering diabaikan dalam hal perawatan. Kelupaan untuk mengganti oli transmisi dapat mengakibatkan beberapa masalah serius seperti selip, tuas transmisi keras dan sulit bergeser, atau kegagalan transmisi menyalurkan putaran mesin ke roda mobil. Cukup dengan mengikuti interval waktu perawatan dan penggantian yang direkomendasikan dapat membuat transmisi mobil Anda terhindar dari kerusakan yang biaya perbaikannya cukup mahal.

“Setiap pabrikan mobil menganjurakan penggantian oli transmisi dengan interval waktu yang berbeda-beda. Tetapi, kami tidak menganjurkan pemilik kendaraan untuk mengikuti anjuran dan petunjuk buku servis tersebut. Karena catatan anjuran pada buku servis itu berlaku untuk kondisi jalan dan pemakaian yang ideal, yakni kondisi jalan tanpa hambatan dan lalu-lintas tidak macet. Sebaiknya pemilik mobil matic di kota-kota besar yang sering terjebak macet mengganti oli transmisi setiap 20.000 km hingga 30.000 km sekali.” saran Listiyono ketika diwawancarai di bengkel Zaini Auto Motor.

Karena kondisi jalanan yang didominasi kemacetan membuat mobil mengalami kondisi stop and go. Hal ini membuat transmisi matic bekerja lebih berat dan keras, begitu juga oli transmisi otomatis. Temperatur mesin yang tinggi saat kemacetan juga bisa membuat kualitas pelumasan oli transmisi menurun. Belum lagi ditambah gesekan pelat kopling dan komponen di dalam transmisi yang makin sering saat macet atau stop and go, bisa membuat oli transmisi lebih cepat kotor.

Dampak Telat Ganti Oli Transmisi Matic

Seiring dengan waktu pemakaian mobil, kualitas oli transmisi makin lama akan terus menurun. Bila sudah begini, daya pelumasan oli pada komponen transmisi pun menjadi menurun. Pastinya juga membuat transmisi tidak dapat bekerja secara optimal. Kualitas oli yang menurun akan berpengaruh pada kekentalan (viskositas) dan daya pelumasan transmisi matic, akibatnya akan menyebabkan komponen di dalam transmisi cepat aus dan rusak.

Telat Ganti Oli Transmisi Matic
Ganti Oli Transmisi Matic

“Jika oli transmisi matic tidak kunjung diganti, kelupaan diganti, ataupun selalu telat menggantinya, maka oli akn semakin terkontaminasi kotoran dan akhirnya menimbulkan masalah pada transmisi. Penggantian oli transmisi secara rutin dapat meminimalisir timbulnya kerusakan pada komponen transmisi. Daripada menunggu rusak, mendingan dirawat secara rutin. Karena apabila terdapat kerusakan atau masalah pada transmisi matic, biasanya membutuhkan biaya perbaikan yang relatif mahal. Apalagi jika kerusakannya cukup parah dan perlu penggantian, dimana harga satu set box transmisi berkisar mulai dari Rp 3 juta hingga puluhan juta,” jelas Listiyono ketika ditemui di bengkel Zaini Auto Motor.

Berbeda dengan transmisi manual, dimana oli transmisi tidak secara langsung membantu proses pergantian gigi kecepatan. Pada transmisi otomatis (matic), oli transmisi bersifat hidrolis. Yaitu bila transmisi matic tidak memiliki cukup cairan pelumas, kualitas pelumasannya telah menurun, atau cairan oli tersebut telah terkontaminasi kotoran, dapat menyebabkan transmisi jadi selip, komponen di dalam transmisi lebih cepat aus, dan pada akhirnya gagal memindahkan tenaga mesin.

Transmisi slip merupakan masalah yang bisa saja terjadi akibat tidak digantinya oli transmisi matic. Hal ini dapat ditandai saat mobil melewati jalanan menanjak. Apabila pengemudi mobil matic mendapati putaran mesin yang telah tinggi, tetapi tidak selaras dengan pertambahan kecepatan mobil, maka transmisi tersebut dipastikan mengalami slip. Dan bila slip pada transmisi matic sudah berlebih, mobil pun akan sulit untuk menanjak. Tetapi jika transmisi masih normal, selip yang terjadi sangat minim dan tidak terasa.

Dampak lain dari telat mengganti oli transmisi adalah munculnya bunyi kasar dan terjadi hentakan pada saat pindah gigi kecepatan. Hal ini bisa dikarenakan torque converter yang sudah mengalami kerusakan. Selain itu, kotoran yang timbul di dalam transmisi dan terbawa oleh sirkulasi oli akan menyumbat saringan (oil filter) yang dapat menyebabkan sirkulasi oli transmisi tidak lancar.

Berbeda dengan komponen pada mesin mobil, komponen di dalam transmisi lebih rawan rusak apabila daya pelumasannya berkurang, atau banyak kotoran yang mengendap dan terkontaminasi pada oli transmisi. Jadi jika oli transmisi matic kualitasnya telah menurun sehingga terlalu encer atau terlalu kotor, daya lumasnya akan berkurang dan akan menyebabkan oli menjadi cepat panas. Dalam kondisi ini, dapat menyebabkan kampas kopling hidrolik dan kampas rem yang ada di transmisi tersebut cepat aus, bahkan bisa terbakar.

“Transmisi matic yang kurang terlumasi akan membuat komponen-komponen di dalamnya saling bergesekan. Sehingga akan menimbulkan suara mendengung dan bunyi kasar dari gesekan komponen logam di dalam transmisi. Jika dibiarkan, lama-kelamaan suara yang ditimbulkan pun akan semakin kasar dan keras. Maka dari itu, penggantian oli transmisi mobil matic jangan sampai telat, karena transmisi otomatis bekerja dengan menggunakan bantuan tekanan oli yang diatur oleh valve body,” ujar Listiyono di sela-sela aktifitas servis di bengkel Zaini Auto Motor.

Untuk memastikan transmisi otomatis selalu berfungsi normal, jangan lupa untuk selalu memeriksa kondisi oli transmisi. Pastikan volumenya cukup, tidak ada kebocoran, dan warnanya masih jernih transparan. Untuk memastikan kondisi transmisi matic secara mendetail, sebaiknya Anda memeriksakan mobil kesayangan Anda ke bengkel mobil terdekat, atau memanfaatkan jasa bengkel mobil panggilan di sekitar daerah tempat tinggal Anda.

Tidak ada salahnya untuk mencatat waktu penggantian oli transmisi. Jika pemilik mobil abai, maka bisa jadi ada kerusakan yang siap menanti kapan saja. Maka hal yang paling penting bagi Anda pemilik mobil bertransmisi otomatis adalah selalu melakukan pemeriksaan dan perawatan berkala di bengkel mobil resmi atau bengkel mobil terdekat. Dengan melakukan hal-hal tersebut, kondisi transmisi pun akan tetap terjaga dan mobil pun tak akan mengalami kendala selama digunakan.

Jika Anda sibuk dan tidak ada waktu untuk melakukan perawatan berkala mobil kesayangan Anda, maka Anda dapat memanfaatkan layanan “bengkel mobil panggilan” dari bengkel Zaini Auto Motor. Para mekanik profesional akan segera mendatangi Anda, untuk melakukan pemeriksaan dan servis berkala sesuai dengan kebutuhan mobil Anda dengan servis yang cepat dan tepat.

Solusi Jitu Mobil Transmisi Matic Mogok

Trik Aman Parkir Mobil Matic Dan Mengemudi di Jalan Menurun

Pengguna mobil bertransmisi otomatis atau matic saat ini terus meningkat, bahkan semakin menjamur berkeliaraan di ruas-ruas jalan perkotaan. Salah satu yang menjadi alasan banyak orang mulai melirik mobil jenis matic adalah kemudahan dalam mengoperasikan dan mengendarainya. Buktinya penjualan mobil jenis matic terus tumbuh pesat dibandingkan mobil bertransmisi manual, khususnya di kota-kota besar di Indonesia.

Agus Tri Ariyanto, General Service Advisor Bengkel Zaini Auto Motor mengatakan, “Meskipun mengendarai mobil bertransmisi otomatis atau matic tergolong lebih mudah dibandingkan dengan mobil bertansmisi manual, pengoprasiannya tetap membutuhkan penyesuaian. Terutama bagi yang biasa menggunakan mobil bertransmisi manual ataupun para pengemudi pemula.”

Selain itu belum banyak yang tahu bagaimana mengemudikan mobil bertransmisi otomatis yang baik dan benar. Maka ada baiknya jika pemilik mobil matic mengetahui poin–poin penting terkait tips untuk mengoptimalkan pengoperasian mobil matic.

1. Saat Kondisi Jalan Menurun

Para pemilik mobil matic perlu memahami cara mengemudikan mobil matic ketika sedang berkendara dan melintasi jalan menurun. Pada kondisi jalan menurun pada umumnya mobil akan meluncur dengan cepat. Maka untuk mengurangi kecepatan laju mobil agar tidak kehilangan kendali, diperlukan cara antisipasi yang benar yaitu dengan memindahkan tuas perseneling dari posisi D (drive) ke posisi 3 atau 2, atau bisa juga mematikan fitur Overdrive (O/D) dengan menekan tombol pada bagian tuas transmisi.

“Apabila kondisi kemiringan jalan semakin curam dan menurun, sebaiknya segera pindahkan tuas transmisi ke posisi L (low), supaya putaran mesin mendapatkan efek engine break (pengereman) dengan bantuan tenaga mesin, sembari injak pedal rem secara perlahan. Selain itu, saat fitur Overdrive (O/D) dalam posisi off, maka posisi gigi kecepatan transmisi akan turun ke tingkat yang lebih rendah. Hal ini juga dapat mengoptimalkan efek engine break mesin,” terang Agus Tri Ariyanto ketika ditemui di Bengkel Zaini Auto Motor, beberapa waktu lalu.

2. Parkir Mobil Matic Yang Benar

Bagi pengemudi pemula atau pengemudi yang biasa menggunakan mobil bertransmisi manual, biasanya sering kebingungan ketika hendak parkir mobil matic. Saat akan memarkir mobil matic, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan harus selalu diingat, yakni harus selalu siap untuk menginjak pedal rem saat memarkirkan mobil. Dengan begitu, roda mobil benar-benar akan berhenti dan mencegah mobil akan berjalan sendiri yang bisa berakibat menyundul mobil di depan atau belakangnya.

Setiap parkir mobil matic, transmisi wajib diletakkan pada posisi P (parking), karena dengan posisi tuas transmisi matic berada di ‘P’ (parking) akan lebih menjamin mobil tidak akan bergerak saat ditinggal. Hal ini lantaran sistem penggerak roda terkunci dengan sempurna. Di dalam transmisi matic ada mekanisme lock pawl, di mana komponen roda gigi transmisi akan masuk ke dalam shaft seperti memasukkan gigi di transmisi manual. Dan lock pawl akan mengunci poros output transmisi sehingga mencegah pergerakan mobil. Artinya, tanpa perlu menarik handle rem tangan (handbrake) pun mobil bertransmisi matic yang diparkir tidak akan bisa maju dan mundur sendiri.

“Tidak sama seperti mobil transmisi manual yang ketika parkir harus diposisi Netral. Untuk mobil bertransmisi matic hindari memarkir mobil pada posisi N (neutral). Pastikan saat parkir posisi tuas transmisi berada di posisi P (Parking) dan didukung dengan handbrake (rem tangan). Selain itu, menginjak pedal rem juga akan mempermudah proses perpindahahan gigi transmisi dari posisi sebelumnya ke posisi “P” (Parking). Selama dalam proses melakukan parkir mobil matic, pedal rem harus dalam posisi ditekan. Agar kondisi mobil tetap stabil dan mencegah melompat akibat tekanan pedal gas yang terlalu dalam.” jelas Agus Tri Ariyanto di bengkel mobil Zaini Auto Motor.

Pastikan posisi tuas transmisi berada di posisi P (Park) saat akan melepas kunci kontak. Pada beberapa mobil bertransmisi otomatis, kunci kontak tidak bisa dilepas saat tuas transmisi belum berada diposisi P (Park). Hal ini disebabkan ada mekanisme yang menghubungkan posisi tuas transmisi dengan mekanisme di dalam kunci kontak. Hal ini bertujuan sebagai pengingat kepada pengemudi agar saat keluar dari mobil, tuas transmisi sudah di posisi P (Parking), sehingga mobil tidak berjalan sendiri.

Selain itu, manfaatkan creep forward effect (Creep Phenomenon) saat mengatur posisi parkir mobil di medan yang datar. Saat mesin mobil hidup dan posisi transmisi di posisi selain ‘P’ (parking) atau ‘N’ (Neutral), pengemudi biasanya akan merasakan kendaraan perlahan bergerak maju tanpa perlu menekan pedal gas. Untuk menghentikan Creep forward effect ini maka pengemudi perlu menggerakkan rem tangan atau pedal rem, agar mobil benar-benar berhenti. Kondisi creep forward effect akan membuat pengemudi lebih mudah saat mengatur posisi mobil saat parkir.

“Dengan memanfaatkan creep forward effect, maka konsentrasi dan fokus pengemudi hanya pada area parkir serta pedal rem untuk menghentikan mobil. Creep forward effect juga memberikan rasa aman khususnya bagi pemula, karena kemungkinan mobil tiba-tiba melompat akibat tekanan pada pedal gas yang terlalu dalam bisa dihindari. Jangan panik ketika kunci kontak tidak bisa dilepas. Pada beberapa mobil matic, kunci kontak baru bisa dilepas saat tuas ada di posisi “P” (parking). Sistem ini diberlakukan agar mobil tidak bergerak ketika pengemudi keluar dari mobil.” jelas Agus Tri Ariyanto ketika ditemui di bengkel mobil Zaini Auto Motor.

Tombol Shiftlock Mobil Matic
Tombol Shiftlock Mobil Matic

3. Parkir Paralel Mobil Matic Yang Benar

Masih banyak yang bingung ketika hendak memarkir mobil matic secara paralel atau sejajar. Parkir secara paralel mensyaratkan mobil harus dapat didorong maju atau mundur. Tentunya hal tersebut tidak bisa dilakukan dengan menarik rem tangan dan memposisikan tuas transmisi pada posisi P (parking).

Saat parkir mobil secara paralel, memposisikan gigi transmisi pada posisi N bisa menyebabkan pintu mobil tidak akan terkunci. Untuk beberapa mobil matic, kadang malah kunci mobil tidak bisa dicabut. Tetapi ketika tuas transmisi diposisi P (parking) maka akan menyebabkan roda mobil terkunci. Sehingga berpotensi menghalangi mobil lain.

Lantas bagaimana cara parkir paralel yang benar agar mobil tetap bisa didorong? Pengemudi diwajibkan menetralkan transmisi matic dengan cara menekan tombol shiftlock. Pada sebagian mobil fitur shiftlock tidak berupa tombol, tetapi berupa lubang kunci kontak. Baik tombol shiftlock atau lubang shiftlock, biasanya terletak di sekitar area tuas transmisi.

Setelah mobil terparkir secara paralel, ada beberapa cara yang harus dilakukan agar mobil dapat bergerak ketika didorong maju atau mundur, yaitu:

  • Pertama, matikan mesin dan cabut kunci kontak, lalu tekan tombol shiftlock, disertai dengan memindahkan tuas transmisi matic dari posisi P (parking) ke posisi N (neutral) dan pastikan handbrake (rem tangan) tidak aktif.
  • Kedua, bila mobil anda tidak ada tombol shiftlock, namun terdapat lubang shiftlock, maka Anda tinggal memasukkan kunci kontak ke lubang shiftlock. Langkah selanjutnya pindahkan tuas transmisi matic dari posisi P (parking) ke posisi N (neutral).
  • Ketiga, apabila mobil matic Anda tidak memiliki tombol shiftlock atau lubang shiftlock, maka Anda tinggal menginjak pedal rem kemudian secara bersamaan pindahkan tuas transmisi dari posisi P (parking) ke posisi N (neutral) dan pastikan handbrake (rem tangan) tidak aktif.

Pengemudi bertanggung jawab dan harus memastikan posisi mobilnya aman dari potensi membahayakan. Hal ini dapat dilakukan dengan tidak memaksakan diri parkir paralel di area dengan permukaan miring. Jika tidak menemukan lokasi yang ideal, maka harus rela untuk mencari tempat parkir yang lebih aman lainnya.

Bagaimana, bagi Anda yang terbiasa dengan mobil bertransmisi manual, apakah tertarik untuk memiliki mobil matic? Setelah mempelajari cara mengemudi mobil matic, kelihatannya tidak susah mengemudikannya, kan? Mobil yang semakin canggih dan modern teknologinya, tentunya semakin mudah mengendarainya dan semakin tinggi tingkat keamanannya bagi pengendara.

Namun perlu diingat, kenyamanan dan keselamatan berkendara tergantung dari cara dan perilaku pengemudi selama berkendara. Maka dari itu, setiap pengemudi wajib selalu waspada dan fokus pada area sekitar mengemudi, agar meminimalisir terjadinya kecelakaan. Dan yang tidak kalah penting, selalu lakukan perawatan atau servis berkala mobil kesayangan Anda di bengkel mobil terdekat. Agar kondisi mobil Anda selalu prima dan fungsi fitur keselamatan mobil tetap terjaga dengan baik.

Penyebab Mobil Tidak Mau Jalan Walau Transmisi Dan Mesin Normal

Mobil Tidak Mau Jalan Walau Transmisi Dan Mesin Normal? Cari Tahu Yuk Penyebabnya!

Ketika mengendarai mobil, pernahkah Anda mengalami kondisi dimana saat Anda menginjak pedal gas, mesin mobil hanya meraung (menderu) tetapi kendaraan tidak mau bergerak atau hanya melaju lambat? Kondisi seperti ini tentu masalah yang tidak normal pada sebuah mobil dan perlu segera diketahui penyebabnya.

Pada mobil yang bertransmisi manual, putaran dari mesin akan disalurkan oleh transmisi ke roda-roda mobil melalui komponen kopling. Clutch (Kopling) terletak diantara mesin (flywheel) dan transmisi, dan berfungsi untuk menghubungkan dan melepaskan tenaga dari mesin ke transmisi melalui kerja pedal kopling selama perpindahan tuas persneling.

Pada mobil dengan transmisi manual, sistem Kopling (clutch system) terdiri dari beberapa komponen penting di dalamnya, antara lain flywheel (roda gila), Pelat kopling (clutch disc), Matahari (cover clutch), release bearing, clutch fork.

Dalam rangkaian kerja sebuah kendaraan, Komponen yang bertugas menyalurkan dan meneruskan tenaga mesin menuju transmisi adalah kopling. Sehingga roda-roda dapat bergerak sesuai putaran mesin dan tingkat percepatannya pun dapat diatur melalui perpindahan gigi Persneling (transmisi).

Apabila terjadi kerusakan pada komponen kopling misalnya kampas kopling sudah habis, walau putaran mesin telah meninggi tetapi respon laju kendaraan tidak akan sepadan, bahkan ada yang cenderung diam. Alhasil sebesar apapun mesin mobil menghasilkan tenaga, maka tenaga tersebut tiadak akan secara maksimal disalurkan ke transmisi.

Menurut Tri Ari Yanto, General Service Advisor Bengkel Zaini Auto Motor, “Setelah memindahkan gigi Persneling biasanya tanpa perlu di gas, ketika pedal kopling dilepas setengah atau lebih mobil sudah dapat berjalan. Tetapi jika kopling bermasalah, mobil cenderung diam tidak akan mau berjalan, dan ketika digas lebih dalam mesin mobil hanya menderu tanpa ada respon laju mobil. Selain itu, ketika mobil melaju melintasi jalan tanjakan, bila respon laju mobil terasa lamban meski pedal gas telah di injak dan putaran mesin telah tinggi, maka perlu dicurigai adanya masalah pada kopling. Bisa jadi ini akibat kopling selip.”

Sebenarnya masalah pada kopling selip biasanya sering kali lebih terasa ketika mobil sudah masuk masa pemakaian tahun ke empat atau jika sering dikendarai setiap hari tanpa jeda istirahat. Jika gejala kopling selip sudah terasa, maka ada baiknya Anda sesegera mungkin melakukan perbaikan pada bagian kopling tersebut. Karena ketika kopling mobil sudah sangat tipis, maka kampas kopling akan sangat sulit menghubungkan tenaga mesin menuju transmisi dengan sempurna.

Akibatnya, ketika mesin mobil dihidupkan, kemudian gigi persneling dimasukkan dan pedal kopling dilepas, mobil tidak segera berjalan. Mesin hanya terdengar menderu (meraung), tetapi tidak diimbangi dengan peningkatan kecepatan laju mobil. Hal ini tentunya berdampak pada top speed mobil yang akan menurun dan lebih rendah dari kondisi normal. Jika gejala tersebut muncul beriringan dengan gejala-gejala yang kami jelaskan diatas, biasanya yang menjadi penyebab utama dan paling sering terjadi adalah kanvas kopling (drive plate/disc clutch) yang sudah menipis, dan kemungkinan juga ada kerusakan pada komponen kopling lainnya. Sehingga kopling selip dan tidak mampu menyalurkan output putaran mesin ke transmisi.

Bila hal ini terjadi, maka segeralah hubungi bengkel mobil terdekat atau bengkel mobil khusus transmisi langganan Anda, agar kinerja mobil kesayangan Anda kembali seperti sediakala. Karena tidak ada cara lain yang bisa dilakukan kecuali untuk membongkar, memeriksa dan melakukan penggantian bila memang diperlukan.

Kampas Kopling Tipis atau Aus Menyebabkan Kopling Selip
Pemeriksaan Kampas Kopling (disc clutch)

Khusus pada transmisi otomatis atau mobil matik, apabila terjadi masalah tersebut, kemungkinan kerusakan diakibatkan kinerja katup bodi (valve body) sudah melemah. Mobil matik dengan pemakaian sering, jarak tempuh tinggi dan jam terbang tinggi biasanya terdapat kotoran, lumpur atau debu yang mengendap pada bagian transmisi, sehingga mengakibatkan valve body kotor. Apalagi ditambah lagi dengan pemilihan oli (pelumas) yang tidak sesuai rekomendasi, menyebabkan valve body cepat kotor dan pada akhirnya kinerjanya melemah.

Gejala yang biasanya dijumpai pada mobil matic saat valve body melemah antara lain :

  • Saat mesin dingin atau baru pertama kali dinyalakan, terasa getaran yang berlebih (abnormal vibration)
  • Mesin menderu tetapi mobil tidak bisa melaju, sehinggi tidak dapat bergerak maju maupun mundur
  • Mesin bergetar saat temperatunya panas.
  • Tarikan tersendat-sendat
  • Saat akselerasi terasa putaran mesin (Rpm) tidak stabil
  • Mobil terkadang ada hentakan ketika melewati jalan menanjak dan saat mobil mengangkut beban yang berat
  • Saat perpindahan gigi (dari gigi 3 ke gigi 2), tiba-tiba erjadi peningkatan RPM mesin yang disertai dengan hentakan atau getaran kasar.

“Tidak sedikit para pemilik mobil matic mengeluhkan masalah mobil yang terasa bergetar saat hendak melaju dan terasa tidak bertenaga saat melewati tanjakan. Ini bisa disebabkan oleh valve body yang kotor. Untuk itu, perlu dilakukan pembongkaran dan pembersihan valve body dari endapan ataupun kotoran halus yang menyumbat,” ujar Tri Ari Yanto di Bengkel Mobil Zaini Auto Motor.

Valve body yang kotor dapat menyebabkan transmisi tidak dapat bekerja dengan baik untuk menyalurkan tenaga dari mesin. Oleh karena itu merawat mobil matic tidak hanya seputar penggantian pelumas secara rutin, tetapi juga harus memperhatikan valve body agar transmisi otomatis dapat bekerja secara optimal. Keuntungan yang Anda peroleh tentunya mobil dapat melaju dengan normal dan nyaman.

Agar mobil dapat melaju, kopling merupakan bagian terpenting yang ada pada mobil untuk meneruskan putaran mesin menuju transmisi. Agar kondisinya tetap prima dan tidak mudah rusak, maka dibutuhkan perawatan dan pemakaian yang benar. Hindari kebiasaan yang kerap menimbulkan kerusakan pada kanvas kopling, antara lain menginjak pedal kopling tidak penuh (setengah kopling), secara kasar dalam melepas / menekan pedal kopling, sering menginjak pedal kopling sepanjang perjalanan. Jika perwatan dan menghindari kebiasaan buruk dalam berkendara tidak dilakukan, bukan tidak mungkin kopling mudah rusak dan bisa menjalar hingga kerusakan parah pada transmisi.

Ketika Anda sibuk dan tidak ada waktu untuk melakukan perawatan mobil Anda, maka manfaatkan segala kemudahan dalam melakukan pemeriksaan, perawatan dan perbaikan mobil kesayangan anda melalui aplikasi “Bengkel Mobil Pro” yang dapat di download melalui Smartphone Anda. Bengkel mobil Zaini Auto Motor merupakan salah satu mitra yang terbaik dalam memberikan layanan pemeriksaan, perawatan dan perbaikan mobil kesayangan Anda. Dengan didukung tim mekanik profesional, servis cepat, biaya yang lebih murah, dan peralatan sesuai standart bengkel resmi, maka akan membuat Anda tenang dalam mempercayakan servis mobil kesayanan anda.

Solusi Jitu Mobil Transmisi Matic Mogok

Ingin Mobil Matic Anda Awet? Begini Pemakaian Yang Benar

Pengguna mobil dengan transmisi otomatis sekarang ini semakin meningkat. Hal ini salah satunya didasari oleh kondisi lalu lintas di kota besar, seperti Jakarta, Surabaya dan kota lainnya yang setiap hari selalu dipenuhi dengan kepadatan kendaraan yang sangat luar biasa.

Ada berbagai alasan masyarakat memilih mobil dengan transmisi matic. Karena dengan menggunakan mobil bertransmisi otomatis, pengemudi akan lebih mendapatkan kemudahan dan keefektifan dalam berkendara ketika di kemacetan lalu lintas, dibandingkan menggunakan mobil bertransmisi manual.

Namun begitu, tak banyak yang tahu bagaimana menggunakan transmisi yang baik dan benar. Maka pemilik mobil matik perlu tahu cara pakai transmisi otomatis yang benar. Berikut ini ulasan beberapa tips untuk mengoptimalkan mobil bertransmisi otomatis secara benar :

1. Saat Lalu Lintas Macet atau Berhenti di Traffic Light

Salah satu yang kerap dilakukan para pengemudi mobil bertransmisi otomatis adalah menempatkan tuas transmisi ke posisi D (Drive) saat mobil terkena macet. Ternyata cara tersebut kurang tepat, karena memposisikan tuas transmisi matic D saat macet akan membuat transmisi lebih cepat bermasalah dan memperpendek usia transmisi matic.

“Ketika kondisi jalan macet jangan membiarkan posisi tuas transmisi tetap di posisi D (Drive) dengan disertai menginjak pedal rem, karena transmisi akan tetap bekerja dan oli pelumas akan terus tersirkulasi. Serta jika juga disertai dengan terus menginjak rem, hal tersebut akan membuat kanvas rem terus menerus bekerja, sehingga usia pakainya menjadi lebih pendek. Jika mobil hanya berhenti sebentar antara 10-15 detik tetapi tidak terus – menerus stop and go, tidak perlu menggeser tuas dari posisi D (Drive) ke N (Netral) cukup menginjak pedal rem saja,” ungkap Tri Ary Yanto ketika ditemui di bengkel mobil Zaini Auto Motor.

Oleh karena, setiap mengendarai mobil matic saat kondisi lalu lintas macet atau ketika berhenti menunggu lampu merah sebaiknya tuas transmisi selalu ditempatkan pada posisi N (Netral). Jika sudah diposisi netral maka tergantung kondisi jalan, kalau mobil berhenti di jalan yang landai tidak perlu menginjak pedal rem. Tetapi akan lebih aman jika menggunakan rem tangan saat berhenti terlalu lama.

2. Saat Macet, Tuas Transmisi Diperbolehkan Pada Posisi P (Parking)

Lantas ada pertanyaan lain yang menyatakan bagaimana jika saat lalu – lintas macet tuas transmisi ditempatkan pada posisi P (parking)?

Menurut Tri Ary Yanto, “hal tersebut diperbolehkan tetapi kondisi mobil harus benar-benar berhenti. Jangan sampai saat kondisi mobil bergerak tuas transmisi langsung dipindah ke posisi P (Parking). Karena langkah tersebut bisa menyebabkan beberapa crash pada komponen gear transmisi, yang tentunya bisa mengakibatkan masalah sehingga mengurangi umur transmisi itu sendiri. Jadi tuas transmisi diperbolehkan pada posisi P asalkan mobil telah berhenti. Ketika mobil telah benar-benar berhenti barulah kemudian dipindah ke posisi P, ditambah dengan rem tangan akan lebih aman lagi,” tutupnya.

3. Manfaatkan Fitur O/D (Overdrive)

Selain itu, saat mobil melintas dan terjebak macet di jalan yang miring (tanjakan) atau turunan, masih banyak pengendara yang belum dapat mengoptimalkan tenaga dari mobil bertransmisi otomatis. Overdrive (O/D) merupakan fitur yang biasa disematkan pada mobil berjenis transmisi otomatis, khususnya mobil pabrikan asal Jepang. Fitur O/D (Over drive) sebaiknya dimanfaatkan ketika mesin membutuhkan putaran dan tenaga yang lebih tinggi, khususnya pada saat mobil menanjak dan ketika berakselerasi mendahului mobil lainnya.

Pengoperasian Overdrive (O/D) memiliki cara berbeda di setiap kendaraan. Tombol fitur O/D (overdrive) biasanya berada di sekitar tuas transmisi. misalnya, pada mobil merk Toyota, fitur overdrive (O/D) biasanya dihadirkan melalui tombol pada bagian bawah pengunci perseneling (Shift lock). Untuk mengaktifkannya, hanya menekan tombol tersebut lalu mesin menyesuaikan hingga putaran tinggi.

Sebenernya fungsi Overdrive (O/D) sangat mirip kerjanya dengan posisi Gigi 5 pada transmisi manual, yang membuat putaran pada transmisi lebih cepat daripada putaran pada mesin. Dengan mengaktifkan fitur overdrive transmisi, maka mobil anda tentunya akan melaju dengan menggunakan gigi kecapatan tertinggi. Saat overdrive aktif maka transmisi akan memindah gigi bila telah mencapai kecepatan tertentu, biasanya pada kecepatan antara 50­ – 60 km/jam, tergantung juga pada berat muatan yang diangkut mobil tersebut.

Ketika melaju dengan kecepatan konstan di jalan Tol bebas hambatan, maka sebaiknya Anda mengaktifkan tombol O/D (overdrive) ini. Dengan mengaktifkan tombol Overdrive (O/D) memungkinkan penggunaan bahan bakar menjadi lebih efisien saat melaju dengan kecepatan konstan. Hal itu karena putaran mesin menjadi lebih rendah dari putaran output transmisi pada gigi kecepatan tinggi.

Dalam kondisi normal ketika mesin dihidupkan, maka fitur Overdrive (O/D) secara ‘default’ dalam keadaan aktif. Namun, ketika Anda menginginkan mobil lebih bertenaga pada saat melalui jalan menanjak, membutuhkan engine brake di jalanan menurun, dan saat mobil Anda ingin mendahului kendaran di depan secara cepat, maka fitur O/D (overdrive) sementara bisa dinonaktifkan. Untuk mengetahui apakah fitur O/D (overdrive) sedang aktif atau tida, pada umumnya terdapat lampu indikator di dashboard mobil yang menunjukkan ”O/D Off atau O/D On“.

4. Atur Tuas Transmisi di Posisi Rendah

Transmisi otomatis tentunya juga memiliki beberapa posisi kecepatan yang dapat diatur berdasarkan kebutuhan berkendara saat melintasi berbagai medan jalan. Kondisi permukaan jalan yang sering kali tidak dapat diprediksi oleh pengemudi, mengharuskan mobil bertransmisi otomatis juga dilengkapi dengan pilihan kecepatan terendah atau dikenal posisi 1 atau L (low).

Pada posisi kecepatan 1 atau L (low), maka kecepatan putaran transmisi diatur untuk menghasilkan torsi / tenaga yang lebih maksimal sesuai kebutuhan mobil saat melintasi jalan tertentu. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah pastikan tidak dalam kecepatan tinggi ketika melakukan perpindahan ke gigi rendah, karena putaran mesin terlalu tinggi saat perpindahan gigi dapat menyebabkan kerusakan komponen di dalam gearbox.

Untuk kondisi jalan yang menurun, posisi 1 atau L (low) ini akan membantu pengereman putaran mesin melalui engine brake. “Mobil bertansmisi matic cenderung tanpa engine brake, untuk memberikan efek engine brake Anda bisa menggunakan gigi kecepatan yang rendah. Jadi ketika melewati jalan menurun dengan posisi tuas transmisi 1 atau L (low) tidak akan menyebabkan masalah pada transmisi, selama selalu dibantu dengan pengereman,” ujar Tri Ari Yanto di Bengkel mobil Zaini Auto Motor.

Sementara untuk kondisi jalan yang menanjak atau landai, sebaiknya pengemudi memindahkan tuas transmisi pada posisi kecepatan 2 atau S (Second). Karena pada posisi ini, transmisi matic dapat menghasilkan kombinasi yang tepat antara kecepatan dan torsi mobil untuk melakukan penanjakkan.

Itulah beberapa tips dan ulasan untuk mengoptimalkan mobil matic secara benar agar transmisi otomatis terhindar dari kesalahan pemakaian sehingga memperpendek usia pakai transmisi itu sendiri.

Jika mobil matic Anda mengalami masalah atau gangguan di tengah perjalanan, hindari mendorong mobil terlalu jauh dan cukup pinggirkan di bahu jalan yang aman. Langkah selanjutnya hubungi bengkel mobil terdekat misalnya bengkel mobil toyota terdekat, bengkel mobil honda terdekat, dan bengkel mobil profesional terdekat. Atau Anda bisa juga menggunakan jasa bengkel mobil panggilan terdekat. Perlu diketahui “Bengkel mobil Pro” adalah salah satu aplikasi smartphone yang sangat membantu ketika mobil Anda mengalami masalah di jalan. Aplikasi “Bengkel mobil Pro” ini memudahkan kita memperoleh jasa perbaikan dan perawatan secara cepat dan mudah saat mobil kita mengalami masalah dimanapun tempatnya.

Zaini Auto Motor

Kerja sama

Perawatan & perbaikan mobil untuk perusahaan / institusi bisa sangat lebih murah jika kerja sama dengan kami. Silahkan kontak Customer Support kami 08112959043 atau kirim email ke [email protected]

Karir

Jika anda seorang yang ulet, rajin dan visioner. Bergabunglah bersama kami, silahkan kirim lamaran pekerjaan ke [email protected]

Zaini Auto Works

  • Kantor : 02716881003‬

  • Customer Service : 08112959043‬

  • Service Advisor : 081548519005‬

  • Palur wetan RT 3 RW 5, Palur, Mojolaban, Sukoharjo. Jawa tengah. Indonesia. 57554

  • Jl. Laksda Adisucipto No.80, Ambarukmo, Caturtunggal, Kec. Depok, Sleman, Yogyakarta. 55281

  • Jl. Simpang Lima No.1, Pekunden, Semarang. 50134

Lokasi