Tag: Safety Driving

Jaga Jarak Aman Hindari Kecelakaan Beruntun Mobil

Mudik Lewat Jalan Tol, Ini Tips Hindari Tabrakan Beruntun

Kecelakaan atau tabrakan memang tidak bisa dihindari. Di jalan Tol akhir-akhir ini banyak terjadi tabrakan beruntun yang melibatkan banyak mobil. Karakteristik jalan tol adalah ketika lalu-lintas lancar maka mobil bisa melaju dengan konstan dan kecepatan tinggi, tetapi ada risiko kecelakaan beruntun yang sering terjadi.

Menurut data dari Kepolisian Lalu Lintas, pada tahun 2018 tercatat ada 1.971 kejadian tabrakan beruntun yang menyebabkan korban meninggal dunia hingga mencapai 3.340 orang. Jadi, setidaknya setiap harinya ada 5 kejadian dengan jumlah korban meninggal sebanyak 9 orang. Memang, jumlah korban dan angka kejadiannya mengalami penurunan dibandingkan tahun 2017. Dimana pada 2017 terjadi kecelakaan beruntun sebanyak 1.943 kasus dengan memakan korban jiwa 3.275 orang. Namun, jumlah tersebut tetap saja masih terbilang banyak.

Penyebab kecelakaannya pun beragam, mulai dari mengindari kendaraan lain di depannya atau melakukan pengerem mendadak. Walaupun cukup sulit dihindari, namun sebaiknya setiap pengemudi harus selalu waspada saat mengemudikan mobil terutama di jalan tol atau jalan bebas hambatan. Jalan tol sekarang ini semakin padat, apalagi saat terjadi arus mudik dan arus balik. Semua pengemudi ingin cepat sampai ditujuan sehingga memacu mobilnya dengan kecepatan yang bervariasi, maka dari itu setiap pengemudi perlu ekstra waspada.

Listiyono, selaku kepala bengkel mobil Zaini Auto Motor menjelaskan, “Setiap pengemudi mobil perlu menerapkan konsep menjaga jarak aman, agar terhindar dari terjadinya tabrakan beruntun. Masih banyak pengemudi yang kurang perhatian dan tidak menerapkan cara berkendara dengan perhitungan jarak aman yang dianjurkan. Dengan menerapkan konsep jarak aman dengan kendaraan lain, setidaknya setiap pengemudi masih memiliki cukup waktu untuk mengantisipasi adanya bahaya di depannya dan mampu melakukan pengereman. Misalnya saat ada mobil di depan yang berhenti mendadak atau mengalami kecelakaan.”

Diperlukan kesadaran setiap pengendara mobil dalam berlalu-lintas, dan usahakan selalu memberi jarak atau ruang yang aman dengan kendaraan lain di depannya sesuai dengan kecepatan mobil. Pengemudi yang hanya menginjak gas, tanpa memahami aturan konsep menjaga jarak aman dengan kendaraan di depannya, sangat beresiko mengalami tabrakan beruntun. Dengan adanya jarak aman dengan mobil lain, pengemudi masih memiliki waktu yang cukup untuk mengantisipasi adanya bahaya dari lingkungan sekitar, terutama dari arah depan, ketika mobil melakukan pengereman mendadak.

Berdasarkan standar safety driving internasional, pengemudi perlu menjaga jarak aman minimal 3 detik dengan kendaraan di depannya. Maka pengemudi perlu paham soal rumus jaga jarak yaitu metode 3 detik (untuk kondisi jalan kering) dan 8 detik (untuk kondisi jalan basah) sesuai yang direkomendasikan dalam aturan safety driving. Metode ini diklaim sebagai penghitungan aman, dan mudah dilakukan. Namun untuk mengantisipasi dan lebih aman lagi, pengemudi mobil dapat menentukan jarak aman antara 3-8 detik. Hal ini dikarenakan dengan waktu 3-8 detik tersebut merupakan tenggat refeleks yang masih mampu dilakukan manusia untuk merespons peristiwa tak terduga. Lantas, bagaimana caranya? Berikut ini penjelasan selengkapnya:

  • Langkah pertama, ketika mengendarai mobil terutama di jalan tol (bebas hambatan), maka usahakan menemukan objek statis di depan Anda, misalnya tiang, pohon atau benda statis lainnya untuk dijadikan patokan menghitung. Misalnya Anda menentukan sebuah objek statis berupa pohon yang letaknya kurang lebih 500 m di depan mobil Anda.
  • Langkah selanjutnya, saat mobil Anda berjalan di belakang mobil lain, apabila mendapati mobil yang berjalan di depan Anda sudah melewati objek patokan tadi, segeralah lakukan hitungan hingga 3 detik.
  • Langkah terakhir, bila mobil Anda ternyata berhasil melewati objek statis sebagai patokan yang sama tersebut dalam waktu 3 detik, artinya mobil Anda sudah mempunyai jarak aman dengan mobil di depan.
  • Namun, apabila kurang dari 3 detik mobil Anda sudah melewati objek patokan tersebut, artinya Anda perlu menurunkan kecepatan agar Anda mempunyai jarak aman yang ideal.
Jarak Aman Antar Mobil  3 Detik Hindari Kecelakaan Beruntun
Ilustrasi Jarak Aman 3 Detik

Mengapa standar internasional safety driving lebih cenderung menggunakan ukuran waktu untuk mengantisipasi tabrakan beruntun? Hal ini lebih dikarenakan adanya kecenderungan manusia lebih mampu mengantisipasi dengan tepat secara waktu ketimbang jarak. Selain itu, komponen safety (keamanan) pada kendaraan, seperti sistem rem, biasanya akan bekerja secara maksimal untuk memperlambat atau menghentikan laju kendaraan dalam kisaran waktu 3-5 detik. Sehingga potensi terjadinya kecelakaan atau tabrakan beruntun dapat dihindari.

“Dengan penggunaan standar waktu, pada kecepatan berapa pun pengemudi yang berada di belakang mobil kita akan lebih dapat menyesuaikan. Sehingga jarak aman antar kendaraan akan terbentuk dengan sendirinya. Ketika lalu-lintas lancar, maka kecepatan mobil berubah, dan jarak aman pun juga berubah. Selain itu, pengemudi harus sebisa mungkin harus menghindari agressive driving, yakni mengemudikan mobil secara emosi sehingga cenderung mengabaikan pentingnya kecepatan dan jarak aman.” ujar Listiyono ketika ditemui di bengkel mobil Zaini Auto Motor.

Kemacetan di musim mudik atau musim libur dapat mempengaruhi kondisi psikologis pengemudi. Hal inilah yang dapat memicu gaya berkendara para pengemudi menjadi agresif yang rentan menimbulkaan kecelakaan. Selain itu, agressive driving juga menjadikan konsumsi bahan bakar mobil menjadi lebih boros. Tetap tenang dan sering berkomunikasi dengan penumpang di dalam mobil dapat mengantisipasi agressive driving. Selain itu, selama berkendara usahakan beristirahat setiap 3 jam untuk menyegarkan tubuh usai mengemudi. Pengemudi dapat pula melakukan senam kecil ketika beristirahat agar suplai darah dan oksigen menjadi normal. Dengan begitu, pikiran kembali fresh dan pengemudi bisa lebih bijak dalam bertindak dan mengambil keputusan selama di jalan.

“Ketika di depan Anda terjadi tabrakan atau kecelakaan, usahakan jangan langsung injak rem. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah melihat kaca spion. Karena dengan melihat spion, maka pengemudi bisa melihat kondisi di sekitarnya terutama di belakangnya. Langkah selanjutnya pengemudi harus mengambil tindakan yang tepat. Jika di belakang Anda ada mobil lain, Anda perlu segera pindah jalur ke sebelahnya atau mungkin masuk ke area aman lainnya, misalnya bahu jalan. Namun, bila tidak ada mobil lain di belakang, barulah Anda bisa menginjak pedal rem untuk menghindarinya.” ujar Listiyono memberikan saran ketika ditemui di bengkel Zaini Auto Motor.

Sebelum mudik atau berlibur pastikan kondisi mobil yang akan Anda gunakan selalu dalam kondisi prima dan sehat. Alangkah baiknya sebelum mobil digunakan mudik dilakukan pengecekan dan perawatan di bengkel mobil profesional. Bengkel mobil Zaini Auto Motor menyediakan layanan pengecekan, perawatan dan perbaikan yang lengkap dan berbiaya murah. Didukung mekanik profesional dan berpengalaman dengan peralatan servis modern, maka akan mempercepat proses servis mobil kesayangan Anda. Selain itu, untuk memudahkan para pelanggannya, bengkel Zaini Auto Motor memberikan layanan “Bengkel Mobil Panggilan” dan Booking Service yang dapat dihubungi melalui customer service center ataupun melalui aplikasi smartphoneBengkel Mobil Pro“.

Teknik Mengemudi Eco Driving

Teknik Mengemudi Ini Dipercaya Bisa Hemat BBM hingga 25 Persen

Di zaman sekarang semakin banyak orang memiliki mobil pribadi sehingga kondisi jalan semakin hari kian padat. Para pengguna mobil harus mulai mengikuti tren yang lebih bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, maka sudah bukan zamannya kebut-kebutan, ugal-ugalan, emosian dan mau menang sendiri. Oleh karena itu para pengemudi harus mulai memahami teknik mengemudi mobil dengan baik.

“Sebenarnya ada 3 aspek keahlian yang wajib dikuasai oleh pengemudi. Antara lain Defensive DrivingSafety DrivingEco Driving,” kata Listiyono, Kepala Bengkel mobil “Zaini Auto Motor“, Solo Raya.

Berikut ini penjelasan tentang tiga teknik mengemudi yang wajib dikuasai oleh setiap pengemudi yang dipercaya mampu menghemat bahan bakar hingga 25 persen, antara lain:

1. Safety Driving

Safety Driving atau biasa disebut skill based driving yaitu perilaku mengemudi dengan keterampilan dan pengalaman berdasarkan standar keselamatan berkendara yang berlaku di suatu negara. Safety driving mengapa sering disebut skill based driving? Karena lebih menekankan pada kemampuan pengemudi dalam menguasai teknis mobil yang digunakan untuk berkendara. Safety Driving lebih mengutamakan teknik mengemudi aman.

2. Defensive Driving

Defensive Driving adalah perilaku mengemudi yang dapat menghindarkan pengemudi dari masalah di jalan, baik yang disebabkan oleh orang lain maupun diri sendiri. Defensive driving atau behaviour based driving lebih menekankan pada pendekatan emosional dan intelektual tentang bagaimana cara mengemudi dengan benar, aman, efisien, dan bertanggung jawab. Jadi bisa disebut bahwa Defensive Driving merupakan versi mengemudi yang lebih komprehensif karena tidak hanya butuh keterampilan tapi juga perilaku yang baik. Untuk Defensive Driving sendiri bertujuan menghemat waktu, menghemat uang, dan menyelamatkan semua pengguna jalan.

Defensive driving pada prinsipnya mengharuskan pengemudi selalu waspada dan memperhatikan kondisi disekitarnya. Tujuannya untuk antisipatif menghadapi berbagai kemungkinan dan potensi bahaya di jalan raya. Dalam pengaplikasiannya, pengemudi harus memperhatikan dan awas di sekitar area sekeliling mobilnya, dengan cara menengok dan melihat kaca spion setiap 5-8 detik. Hal ini bertujuan untuk membantu menjaga konsentrasi dan menciptakan zona aman imajiner saat berkendara.

Selain itu para pengguna jalan juga wajib mengutamakan sikap saling mengalah. Tidak ada salah dan ruginya bila sesama pengguna jalan mengorbankan waktu 3-5 detik untuk berhenti dan memberi jalan ke sesama pengemudi lainnya. Daripada bersikap agresif, dan emosional yang bisa berujung pada kecelakaan dan kerugian yang diakibatkan akan lebih besar.

Justru hal paling penting dalam defensive driving adalah mindset. Menurut penelitian disebutkan bahwa 90 persen faktor penentu keselamatan di jalan adalah pola pikir dan pengendalian emosi. Memang bagi sebagian orang ini dianggap susah, dan hal ini perlu latihan. Jika dihitung dalam persentase bahwa skill mengemudi itu cuma berperan 10 persen dalam soal keselamatan berlalu-lintas, selebihnya yaitu 90 persen justru tentang mengontrol emosi. Karena kontrol emosi adalah salah satu soft skill yang harus dimiliki pengguna mobil sebelum terjun ke medan jalan raya.

Kita semua tahu di jalan raya segala kemungkinan bisa terjadi. Kita tidak pernah tahu kondisi pengemudi lain ataupun perangainya dalam berkendara di jalan raya. Bisa saja, saat di jalan raya kita bertemu dengan orang yang sedang mendapat masalah sehingga emosinya labil, atau kemungkinan terburuk bertemu dengan pengemudi yang mabuk. Maka dari itu sebagai pengguna jalan yang baik, harus mau berbagi dengan pengemudi lain.

3. Eco Driving

Sedangkan Eco Driving adalah mengkombinasikan teknik mengemudi Safety Drivingdengan Defensive Driving. Di situlah akhirnya tercipta teknik mengemudi yang menghemat waktu dan biaya, aman, serta ramah lingkungan.

Dalam penerapan teknik eco driving banyak sekali manfaat yang didapatkan oleh pengemudi. Namun, belum banyak pemilik mobil yang menerapkannya dalam keseharian berlalu-lintas. Selain bisa menghemat energi dan mengoptimalkan konsumsi bahan bakar secara efisien, penggunaan eco driving juga bisa mengurangi resiko kecelakaan.

Selain itu, penerapan teknik Eco Driving juga berkontribusi terhadap program pelestarian lingkungan dengan mengurangi sumbangan gas karbon (CO2) yang selama ini menjadi salah satu sumber emisi karbon terbesar. Mengemudi menggunakan teknik eco driving dapat diaplikasikan dalam aktifitas sehari-hari.

Jika hendak menerapkan teknik eco driving dalam mengemudi sehari-hari, ada beberapa persiapan yang harus diikuti. Sangat dianjurkan menggunakan mobil yang menunjang penerapan teknik eco driving dalam mengemudi, terutama pada bagian mesin.

Pertama, Pemilik mobil wajib menggunakan bahan bakar yang nilai oktannya (RON) telah direkomendasikan sesuai jenis mesin mobilnya, pada umumnya mobil keluaran tahun 2015 ke atas lebih baik menggunakan oktan 92. Kedua, periksa tekanan ban dan hindari beban atau muatan yang berlebihan. Lalu selalu lakukan servis berkala dan servis rutin di bengkel mobil terpercaya.

Dalam menerapkan teknik eco driving perlu diperhatikan hal-hal penting berikut ini:

  • Hindari menginjak pedal gas terlalu dalam. Menginjak pedal gas sebaiknya secara perlahan, sering melakukan akselerasi tinggi pada saat start hanya akan menyebaban konsumsi bahan bakar boros.
  • Tidak memaksa kinerja mesin dengan beban putaran RPM yang berlebih.
  • Menghindari pengereman mendadak. Perhatikan kondisi sekitar kendaraan misalnya tikungan, perlintasan pejalan kaki, atau halte bus. Anda harus mengurangi kecepatan diarea tersebut atau mulai mengerem lebih awal.
  • Pertahankan kecepatan kendaraan pada putaran normal, jangan sering menambah (acceleration) atau mengurangi kecepatan (deceleration) secara tiba-tiba.
  • Menutup jendela saat mengemudi dengan kecepatan sedang atau tinggi, agar udara tidak masuk ke kabin yang bisa menghambat laju mobil anda, hal ini tentunya membuat boros bahan bakar.
  • Memindahkan posisi tuas transmisi secepat mungkin dan batasi perpindahan gigi di setiap putaran 2000 RPM, agar pemakaian bahan bakar lebih efisien dan optimal. Telat melakukan perpindahan gigi merupakan faktor terbesar penyebab bahan bakar boros. Misalnya pengendara memposisikan tuas transmisi di gigi dua untuk kecepatan 40-50 km/jam, padahal ini kurang tepat. Dalam eco driver, untuk jalan datar mobil dengan mesin 1.300 – 1.500 cc pada kecepatan 40-50 km/jam sudah harus masuk perpindahan gigi lima. Apalagi untuk mobil dengan cc yang lebih besar, juga bisa diterapkan dengan gigi lima pada kecepatan 40 km/jam.
  • Jaga jarak aman dari mobil yang berada di depannya. Hindari menempel atau membuntuti terlalu dekat dengan mobil di depan anda. Jarak aman yang dianjurkan adalah sekitar 3-4 meter.
  • Penekanan pedal gas secara perlahan dan halus saat kondisi lalu-lintas macet, hindari akselerasi berlebihan.
  • Hindari melakukan posisi kaki menginjak pedal setengah kopling.
  • Manfaatkan engine break untuk membantu pengereman, khususnya ketika posisi jalan menurun.
  • Matikan mesin saat mobil berhenti lebih dari 5 menit dan jangan biarkan mesin terlalu lama menyala saat idling.
  • Gunakan AC sesuai kebutuhan dan atur temperaturnya pada posisi ideal, bukan pada suhu maksimal.
  • Jangan menginjak pedal gas secara tiba-tiba karena ban bisa selip, dan laju kendaraan tidak terkontrol.
  • Waspadai area blind spot yaitu area dimana kondisi sekitar tak terpantau oleh jangkauan mata pengemudi baik di sekitar kendaraan sendiri, kendaraan lain dan kaca spion. Pengemudi disarankan membuat lingkaran imajiner (safe bubble) di sekitar kendaraannya sendiri dengan mengecek spion setiap 5-8 detik sekali, terutama sebelum melakukan manuver.
  • Hindari distraksi atau gangguan saat mengemudi, misalnya menggunakan smartphone, makan dan minum, mengobrol, mengganti saluran radio, mengecek penunjuk arah peta, dan lain sebagainya.
  • Pandangan jangan terpaku ke satu titik saja, karena akan membuat pengemudi lebih mudah mengantuk.
  • Tidak agresif saat mengemudi, karena bersikap agresif saat mengemudi mobil membuat konsumsi bahan bakar cenderung meningkat. Pengemudi yang agresif cenderung terburu-buru ingin cepat sampai di tempat yang dituju. Jika terburu-buru pengemudi cenderung menekan gas sedalam dan semaksimal mungkin. Selain itu pengemudi akan lebih sering menginjak pedal rem, maka bila sering gas-rem, gas-rem menyebabkan konsumsi bahan bakar akan boros.
  • Selalu menjaga emosi dan jangan mudah terpancing amarah. Emosi dan mindset adalah kunci cara mengemudi eco driving yang dapat menghemat bahan bakar. Karena pengemudi bisa lebih jernih berfikir agar mobil bisa bekerja lebih efisien di jalan, gerak mobil pun lebih halus dan mengikuti pola lalu lintas di sekitar.

Dalam berkendara tidak hanya perlu memperhatikan aspek keamanan, namun juga aspek lingkungan dan nilai ekonomis. Pengemudi yang mampu berkendara secara eco driving maka akan menghemat konsumsi bahan bakar yang berarti berkontribusi pada lingkungan. Bukan hanya membuat aman tetapi teknik ini juga akan meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar mobil hingga 25 persen.

Dan yang terakhir adalah selalu waspada dan antisipasi. Ini sangat penting karena sebagai pengemudi kita harus belajar membuat skenario mengemudi yang baik sebagai evaluasi setiap kali mengendarai mobil. Antisipasi yang tepat sangat mempengaruhi keselamatan diri sendiri dan orang lain. Semua pengemudi harus konsisten menerapkan teknik mengemudi diatas. Harapannya adalah jika semakin banyak pengemudi yang menerapkan konsep teknik tersebut, tentu akan tercipta ke ketertiban berlalu lintas dan kelestarian lingkungan terjaga.

Zaini Auto Motor

Kerja sama

Perawatan & perbaikan mobil untuk perusahaan / institusi bisa sangat lebih murah jika kerja sama dengan kami. Silahkan kontak Customer Support kami 08112959043 atau kirim email ke [email protected]

Karir

Jika anda seorang yang ulet, rajin dan visioner. Bergabunglah bersama kami, silahkan kirim lamaran pekerjaan ke [email protected]

Zaini Auto Works

  • Kantor : 02716881003‬

  • Customer Service : 08112959043‬

  • Service Advisor : 081548519005‬

  • Palur wetan RT 3 RW 5, Palur, Mojolaban, Sukoharjo. Jawa tengah. Indonesia. 57554

  • Jl. Laksda Adisucipto No.80, Ambarukmo, Caturtunggal, Kec. Depok, Sleman, Yogyakarta. 55281

  • Jl. Simpang Lima No.1, Pekunden, Semarang. 50134

Lokasi