Waspada Microsleep Saat Mengemudi

Melintasi Tol Trans Jawa Waspadai Microsleep, Penyebab Kecelakaan Tertinggi

Pada akhir Desember 2018, tol Trans Jawa telah diresmikan beroperasinya dengan total jarak 1.150 km. Meskipun ada beberapa ruas jalan yang masih dalam tahap penyelesaian fasilitas pendukung jalan. Kehadiran Trans Jawa yaitu jalan bebas hambatan yang dibangun membentang mulai dari Merak hingga Banyuwangi, tentu menjadi salah satu pilihan bagi para pengemudi yang hendak bepergian atau menikmati musim liburan dengan perjalanan yang relatif lebih cepat dan lancar.

Mengapa disebut relatif lebih cepat dan lancar? Karena untuk mengaspal di ruas Tol Jakarta-Surabaya sepanjang 760 km, saat ini bisa ditempuh lebih kurang dalam 10 jam, jauh lebih cepat dibanding berkendara melalui jalur reguler Pantura yang bisa memakan waktu 15-18 jam perjalanan.

Bagi Anda yang hendak bepergian atau berlibur menggunakan jalur tol Trans Jawa, diperlukan kewaspadaan ekstra bagi setiap pengemudi yang melintasinya. Mengemudi jarak jauh dengan jalur dan landscape yang monoton cenderung lebih mudah menimbulkan rasa lelah dan bisa menyebabkan microsleep. Para pengemudi patut mewaspadai fase microsleep ini karena ini bisa mengakibatkan kefatalan dalam berlalu lintas.

Penelitian oleh AAA Foundation for Traffic Safety, mengemukakan 96 persen pengemudi yang menjadi responden mereka menyebutkan rasa kantuk sebagai ancaman serius berkendara. Menurut AAA Foundation, 17 persen kecelakaan fatal diakibatkan pengemudi yang mengantuk. Hal ini berdasarkan pengamatan dari rekaman video para responden saat mengemudi. Peneliti menemukan persentase kecelakaan lalu lintas akibat kantuk 8 kali lebih tinggi dibanding penyebab kecelakaan lain yang dilaporkan pemerintah Amerika. Dalam penelitian ini, ada beberapa pengemudi yang ternyata tidak melaporkan rasa kantuk saat terjadi kecelakaan lalu lintas karena merasa malu. Walau sebenarnya mereka tak bisa menyembunyikan rasa kantuk karena diidentifikasi dari rekaman wajah tiga menit sebelum kecelakaan.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, apa sebenarnya yang dimaksud dengan microsleep?

Microsleep adalah fase tidur singkat yang ditandai dengan hilangnya fokus secara tiba-tiba, dan tertidur singkat selama 2 detik hingga 1 menit. Namun durasi tersebut dapat bertambah lama jika seorang benar-benar memasuki kondisi tertidur. Saking singkatnya microsleep, seringkali seseorang tak menyadari telah tertidur. Terkadang, microsleep terjadi saat mata terbuka.

Microsleep tidak seperti tidur biasa, karena microsleep adalah suatu kejadian hilangnya kesadaran atau perhatian seseorang karena merasa lelah atau mengantuk. Microsleep banyak dialami oleh individu dengan aktifitas monoton, para pekerja malam, orang dengan gangguan tidur (misalnya, sleep apnea atau insomnia), individu yang kerap beraktifitas di depan layar komputer dalam waktu yang lama, dan aktifitas mengemudi di jalur lurus atau jalur yang sudah dihafal.

Microsleep berbanding lurus dengan tingkat kantuk seseorang. Hal ini ditunjukkan dengan penelitian yang diterbitkan dalam Proceedings of National Academy of Sciences, bahwa tingkat risiko kecelakaan pekerja shift malam meningkat 37,5 persen. Hal ini tentu juga berlaku bagi Anda yang kurang tidur pada saat sebelum mengemudikan kendaraan. Selain itu, menurut American Sleep Apnea Society mengatakan bahwa orang yang mengalami gangguan tidur (sleep apnea) memiliki risiko kecelakaan mobil 2-4 kali lebih tinggi.

Seorang pengemudi bisa saja tidak merasakan kantuk. Karena saat hal ini terjadi, sel otak telah merasakan kelelahan namun pengemudi berusaha tetap bertahan agar tetap terjaga. Persepsi rasa kantuk kadang terkalahkan oleh adrenalin yang meningkat saat asyik berkendara. Namun kemampuan sel otak tetaplah terbatas. Kelelahan dalam mengemudi atau kurangnya tidur, akan membuat sebagian sel-sel otak mulai berhenti bekerja, sebelum seseorang benar-benar merasakan kantuk.

Pada saat mulai mengantuk, sel otak manusia mulai mematikan sementara sebagian aktivitas, dimana tubuh masih terjaga tetapi otak sudah tidak berfungsi penuh. Fenomena ini dinamakan fase tidur lokal, sedangkan microsleep adalah fase tidur lokal yang berkelanjutan, sehingga membuat otak lumpuh dan perlu waktu tunggu tubuh mengembalikan kesadarannya.

Ada tanda-tanda untuk mengidentifikasi apabila microsleep telah menghinggapi seorang pengemudi. Antara lain, tatapan mata kosong. kepala menghentak ke depan tiba-tiba, sering menguap, tidak mampu mengingat menit terakhir aktifitasnya dan sering berkedip lambat. Hal ini bisa berakibat pengemudi gagal merespons informasi dari luar, seperti tidak melihat lampu lalu lintas, tikungan, nyala lampu kendaraan di depannya.

Tertidur secara tiba-tiba namun hanya dalam waktu yang sangat singkat, membuat serangan microsleep sering kali tidak disadari. Baru setelah fase tidur singkat ini berakhir, seringkali muncul sensasi ‘sharp jerk of the head‘ (hentakan kuat di kepala). Akibatnya bisa menurunkan konsentrasi dan tentu bisa berakibat fatal dalam mengemudikan mobil. Dalam kecepatan tinggi, hilangnya konsentrasi dan kesadaran selama beberapa detik, sudah bisa menyebabkan mobil meluncur kencang tidak terkendali hingga ratusan meter.

Bayangkan ketika mobil dipacu dengan kecepatan 110 km per jam, saat bersamaan pengemudi mengalami fase microsleep selama 8 detik, maka mobil dapat melaju hingga 250 meter. Kondisi ini sangat memungkinkan kendaraan berpindah jalur, menerobos ke sisi jalan, atau melanggar lampu lalu lintas. Berdasarkan penelitian setidaknya ada kurang lebih 20 persen pengemudi pernah mendapat fase microsleep saat berkendara.

Pulau Jawa yang nyaris terhubung dengan jalur tol Trans Jawa, memiliki medan yang panjang sehingga dapat membuat pengemudi terlena dan biasanya tingkat kewaspadaan ikut menurun. Sebenarnya ada dua hal yang perlu diwaspadai saat mengemudi di jalan seperti jalur tol Trans jawa ini yaitu ABS (auto behavior syndrome) dan microsleep.

ABS (auto behavior syndrome) adalah kelelahan yang ditimbulkan dari terlalu lamanya atau berjam-jam mengemudikan mobil, atau akibat kurang tidur sebelum melakukan perjalanan. Sedangkan microsleep, adalah tingkat kelelahan yang timbul akibat kejenuhan mengendarai mobil, jarak tempuh yang jauh, kemacetan, dan jalan yang monoton bisa memicu microsleep datang lebih cepat. Lalu bagaimana caranya menghindari terjadinya ABS (auto behavior syndrome) dan microsleep?

Berbagai penelitian menunjukkan memenuhi kebutuhan tidur adalah kunci utamanya. Mengemudi dalam kondisi kurang tidur sama bahayanya dengan mengemudi di bawah pengaruh alkohol. Kurang tidur dua hingga tiga jam dapat meningkatkan risiko kecelakaan hingga 4 kali lipat, setara dengan mengemudi dalam keadaan mabuk. Salah satunya, karena rentan mengalami serangan microsleep.

Selain itu, bagi seseorang yang mengalami obesitas atau kegemukan berlebih, tidak disarankan mengemudikan sendiri dalam jarak yang jauh. Karena kegemukan yang dialami biasanya menyebabkan gangguan obstructive sleep apnea (OSA) sehingga kualitas tidurnya berkurang dan menjadi lebih rentan terhadap serangan microsleep.

Kopi atau suplemen kafein hanya berfungsi menunda kantuk, dan tidak pernah benar-benar bisa menggantikan tidur. Pada titik tertentu, kafein tidak akan sanggup mencegah serangan microsleep. Oleh karena itu sebelum mengemudi, pengendara harus mempersiapkan diri dengan istrihat yang cukup dan asupan nutrisi yang memadai agar staminanya selalu prima. Dan salah satu yang perlu diperhatikan adalah dengan beristirahat yang terjadwal selama mengemudi.

Pada saat mengemudi, waktu istirahatnya harus dibuat terjadwal. Misalnya, untuk perjalanan maksimal setiap 120 menit mengemudi harus beristirahat pertama dengan waktu minimal 15-30 menit. Usahakan pada istirahat kedua, tidur power nap yaitu tidur berkualitas selama 15 menit yang setara menggantikan tidur 8 jam.

Kendaraan yang digunakan setiap hari tentu sangat membutuhkan perawatan dan perbaikan secara berkala dan sebaiknya dilakukan di bengkel mobil profesional agar kenyamanan, dan keselamatan pengendara selalu terjaga. Selain itu yang tak kalah penting adalah memastikan kondisi pengemudi selalu prima dalam setiap melakukan perjalanan.

Maka dari itu faktor kendaraan yang prima dan kondisi pengemudi yang fit, sangat menunjang terciptanya keselamatan dan keamanan selama berkendara. Penumpang juga berperan penting untuk membantu pengemudi menghindari microsleep. Maka penumpang diharapkan aktif berkomunikasi dengan pengemudi, aktif mengingatkan beristirahat bila dirasa perjalanan sudah terlalu lama, tegurlah bila pengemudi terlihat mulai mengantuk atau lelah.

Selamat menikmati perjalanan anda, semoga selamat sampai tujuan.

Auto Behavior Syndrome, Bengkel Mobil, Bengkel Mobil Pro, Microsleep, Tol Trans Jawa

Zaini Auto Motor

Kerja sama

Perawatan & perbaikan mobil untuk perusahaan / institusi bisa sangat lebih murah jika kerja sama dengan kami. Silahkan kontak Customer Support kami 08112959043 atau kirim email ke [email protected]

Karir

Jika anda seorang yang ulet, rajin dan visioner. Bergabunglah bersama kami, silahkan kirim lamaran pekerjaan ke [email protected]

Zaini Auto Works

  • Kantor : 02716881003‬

  • Customer Service : 08112959043‬

  • Service Advisor : 081548519005‬

  • Palur wetan RT 3 RW 5, Palur, Mojolaban, Sukoharjo. Jawa tengah. Indonesia. 57554

  • Jl. Laksda Adisucipto No.80, Ambarukmo, Caturtunggal, Kec. Depok, Sleman, Yogyakarta. 55281

  • Jl. Simpang Lima No.1, Pekunden, Semarang. 50134

Lokasi